Rabu, 21 Mei 2008

Transformasi Diri Imelda Fransisca

taken from http://kesuksesan-sejati.blogspot.com/.../transformasi-diri-imelda-fransisca.html

Transkrip ini dibuat berdasarkan siaran bertajuk 'Succeed Successfully' di radio Heartline 100.6 FM yang mengudara tanggal 12 Mei 2008, dengan narasumber Imelda Fransisca, Miss Indonesia dan Miss Favorit pilihan pemirsa tahun 2005, serta runner up Miss Asean 2005 sebagai wakil dari Indonesia.


Host: Dari profil seorang Imelda Fransisca dan juga dari buku yang Imel terbitkan dengan judul You Can Be Anything and Make Changes, saya mendapati ada satu fase di mana Imel mengalami suatu kondisi hidup yang seakan-akan sangat bertolak belakang sehingga menyebabkan perubahan yang sangat drastis, dan itu menjadi semacam batu loncatan yang menghantarkan Imel kepada kesuksesan seperti yang sudah Imel nikmati sampai sejauh ini. Sebenarnya seberapa pentingkah untuk kita mentransformasi diri atau mengalami perubahan?
Narasumber: Yang pasti kita harus tahu dulu seperti apa keadaan diri kita dan transformasi diri seperti apa yang perlu kita lakukan. Sebetulnya untuk kita mencapai kesuksesan tidak selalu harus melakukan transformasi diri, you still can be yourself tapi kalau kita memang merasa ada kekurangan pada diri kita atau ada hal-hal yang memang bisa menghambat kita untuk menjadi sukses, ya sudah seharusnya kita mentransformasi diri.

Host: Dalam profil Imel dikatakan bahwa Imel berkuliah di Ohio State University di Amerika dan mengambil jurusan psikologi. Dari apa yang Imel perhatikan – baik dalam hidup Imel pribadi maupun dalam diri orang-orang sukses yang pernah Imel jumpai – kira-kira apa saja hal-hal yang paling mendasar yang membutuhkan perubahan jika kita ini ingin menjadi orang yang lebih baik lagi? Karena saya mendapati, seringkali kita sendiri tidak bisa mengetahui dengan pasti apa yang menjadi kekurangan kita, sehingga ketika akhirnya kita dituntut untuk menjadi lebih baik, kita tidak tahu apa yang harus kita lakukan karena selama ini kita merasa sudah cukup baik.
Narasumber: Menurut saya itu kembali lagi kepada introspeksi diri yang kita lakukan, karena ada kalanya kita tidak mengetahui apa saja yang mejadi kendala-kendala yang menghambat kita untuk dapat terus maju, tapi biasanya 80%-90% orang tahu apa yang menjadi kekurangannya. Masalahnya, ada orang yang sengaja pura-pura tidak tahu, ada juga yang memang tidak mau tahu, tapi saya rasa mayoritas orang tahu kelemahannya masing-masing, pertanyaannya sekarang adalah orang itu mau berubah atau tidak. Dari apa yang pernah saya alami – seperti yang saya tuliskan dalam buku saya – yang membuat saya mau berubah adalah karena rasa capai dan frustrasi terhadap situasi yang ada, di mana orang-orang memiliki suatu penilaian tertentu terhadap diri saya dan saya tidak mau dinilai seperti itu; karena itu saya mau keluar dair posisi seperti itu. Mungkin Anda bertanya-tanya, posisi seperti apa? Waktu usia 9 tahun, saya dikirim ke Singapura oleh orangtua saya dan di sana saya tinggal dengan guru saya. Ketika itulah saya mengalami child abuse (tindak kekerasan), di mana jika hasil belajar saya tidak sesuai dengan yang diharapkan, setiap kesalahan yang saya buat harus dibayar dengan satu pukulan. Jadi kalau saya diberikan 200 soal dan saya salah menjawab 90 soal, alhasil dalam sehari saya bisa menerima 90 pukulan. Jadi saya sering sampai babak belur. Dan yang paling menyakitkan hati saya adalah selama saya tinggal di sana, setiap hari guru saya selalu berkata kepada saya (sambil memukul saya), “Dasar kamu anak bodoh yang tidak tahu diuntung, kamu tidak mungkin menjadi orang sukses...” dan hal-hal negatif lainnya. Sebagai seorang anak kecil yang dicekokin dengan kata-kata seperti itu setiap hari, lama kelamaan saya menjadi percaya dengan apa yang dia katakan itu. Selain itu, saya juga sering tidak diperbolehkan untuk makan oleh guru saya, jika dia merasa saya tidak sebaik yang dia harapkan. Akibatnya, setiap kali saya keluar rumah saya akan makan sebanyak-banyaknya, karena saya takut kalau-kalau saya tidak diberi makan di rumah, sehingga pada usia 12 tahun berat badan saya sudah mencapai 80 kg. Pada akhirnya ada satu kejadian di mana dia juga ingin menggunting rambut saya, sehingga karena sudah tidak tahan lagi akhirnya saya memberanikan diri untuk menelepon orangtua saya (selama ini saya tidak berani bercerita kepada orangtua saya karena saya takut, jika saya ketahuan mengadu kepada orangtua saya, saya akan lebih disiksa lagi oleh dia). Ketika orangtua saya tahu mereka menjadi marah dan kemudian menarik saya pulang. Akan tetapi masalahnya tidak berhenti sampai di situ saja; ketika saya masuk SMA, saya sering sekali mengalami krisis identitas karena badan saya memang yang paling besar di sekolah, sehingga saya sering menerima ledekan-ledekan dari teman-teman – saya sering disebut sebagai raksasa-lah – dan sebagai seorang gadis hal itu sangat melukai hati saya. Sebagai akibatnya, untuk bisa diterima oleh teman-teman, saya diet mati-matian sampai akhirnya saya menderita anoreksia dan komplikasi kesehatan lainnya: lutut saya mengalami gangguan karena keropos akibat kurang nutrisi, pencernaan saya mengalami malfunction, rambut saya rontok, saya sering pingsan, dan jika muntah saya mengeluarkan cairan kuning. Yang paling parah adalah secara mental, karena saya hidup tapi saya tidak memiliki tujuan hidup. Ketika akhirnya saya bisa melanjutkan kuliah ke luar negeri, itu juga karena orangtua saya sanggup membiayai saya, tapi saya sendiri sesungguhnya tidak punya tujuan apa-apa. Bagi saya, kalau sampai saya tidak lulus kuliah juga tidak apa-apa. Suatu hari saya mengikuti kelas introduction to psychology dan di situ saya belajar tentang eating disorder. Yang paling mengejutkan saya adalah bahwa eating disorder ternyata bisa menyebabkan kematian. Sepulangnya dari kelas itu saya mulai berpikir, apakah saya memang dilahirkan ke dunia hanya untuk melakukan hal-hal yang tidak saya ketahui apa tujuannya dan saya akan meninggal hanya karena kebodohan saya. Dari situ saya mengambil keputusan untuk mengubah hidup saya dan sejujurnya hal itu tidak mudah, karena semua masalah itu berakar pada masa lalu. Ketika saya semakin mendekatkan diri kepada Tuhan, saya disadarkan bahwa saya harus mulai ‘berdamai’ dengan masa lalu saya agar saya bisa terus melangkah ke depan. Ketika saya melakukan hal itu, saat ini saya sungguh diberkati dengan luar biasa.

Host: Sangat luar biasa! Dari sini saya bisa simpulkan bahwa Imelda mengalami turning point justru ketika Imel bisa mulai ‘berdamai’ dengan masa lalu yang kelihatannya kelam dan sangat menyakitkan.
Narasumber: Ya, saya bisa mengalami turning point itu ketika saya mengambil sebuah keputusan bahwa meskipun saya memiliki masa lalu yang kelam, saya tidak mengijinkan masa lalu saya itu menentukan masa depan saya.

Host: Jadi Heartlisteners, pastikan pengambilan keputusan yang Anda buat akan selalu bisa menghantarkan Anda menjadi orang yang lebih baik lagi. Dan ada satu prinsip yang saya ingin garis bawahi dari apa yang tadi Imel sampaikan: ketika Imel belajar untuk mendekatkan diri lebih lagi kepada Tuhan, proses ‘berdamai’ dengan masa lalu akan menjadi jauh lebih mudah.
Narasumber: Betul sekali. Karena kita juga bisa lahir ke dunia ini karena kuasa dari “yang di atas”; men are designed to work with God (manusia diciptakan untuk bisa bekerja sama dengan Tuhan). Kalau kita bisa bekerja sama dengan Tuhan, segala sesuatunya pasti akan menjadi lebih mudah.

Host: Berikut ini sudah ada sms yang masuk dari Bp. Rianto: Dapatkah Imelda memberikan contoh-contoh tindakan konkret dalam menyertakan Tuhan pada posisi turning point?
Narasumber: Sebenarnya mudah sekali; setiap bangun pagi, yang saya lakukan pertama-tama adalah saya mencari tuntunan dari Tuhan untuk dapat melewati sepanjang hari itu, karena dalam bidang yang saya tekuni khususnya, pekerjaan yang ada seringkali cukup stressful karena ada banyak hal yang bisa terjadi di luar apa yang kita harapkan ataupun ada situasi-situasi yang cukup menantang buat kita.

Host: Satu sms lagi dari Indri: Bisakah Ibu ceritakan arti kerja sama dengan Tuhan menurut Ibu?
Narasumber: Arti kerja sama dengan Tuhan adalah mengikutsertakan Tuhan dalam setiap keputusan yang kita buat, dalam setiap pemikiran dan tindakan kita. Karena sebenarnya kita bisa bercakap-cakap dengan Tuhan setiap saat dan di mana saja, bukan hanya ketika kita berdoa pada pagi atau malam hari, dan Tuhan pasti bisa mendengar.

Host: Dari tulisan Imel dalam buku You Can Be Anything... dan juga dari foto-foto yang ada di buku tersebut – foto-foto pada waktu Imel masih di Singapura sampai ketika Imel meraih prestasi sebagai Miss Indonesia dan runner up Miss Asia tahun 2005, saya melihat ada suatu perubahan yang sangat menyolok. Sebenarnya, apa yang menjadi dasar keyakinan atau belief system yang dimiliki oleh seorang Imelda Fransisca sehingga rela membayar harga yang sangat mahal untuk bisa berubah dari seorang dead-girl walking menjadi seorang yang bukan hanya memiliki prestasi nasional tetapi bahkan internasional?
Narasumber: Memang pada waktu saya mengambil keputusan itu, saya hanya melihat satu tujuan atau target jangka pendek, yaitu saya ingin lulus kuliah dengan nilai yang baik dalam suatu jangka waktu yang cukup singkat, dan saya ingin membanggakan orangtua saya, sambil juga membuktikan kepada mereka dan kepada diri saya sendiri bahwa saya bisa melakukannya. Cuma itu yang ada di pikiran saya saat itu. Jadi, yang saya lakukan pada waktu itu adalah belajar dengan giat, sementara teman-teman yang lain mungkin sedang menikmati hidup atau bersenang-senang. Ketika saya menerima hasil ujian saya dengan nilai A, saya menyadari bahwa ternyata saya ini bisa jika saya mau belajar dan berusaha mati-matian. Saya menyadari bahwa ternyata saya tidak bodoh, tidak seperti apa yang saya percayai dulu. Hal itu lalu menjadi motivasi untuk saya belajar lebih giat lagi dan akhirnya saya bisa sampai membantu dosen saya. Dari situ ada satu value atau nilai yang saya pegang, yaitu bahwa jika kita berusaha dengan keras, kita pasti akan melihat hasil yang baik juga.

Host: Wow! Saya mengira, apa yang menjadi belief system seorang Imelda Fransiska sampai bisa mentransformasi diri dan terpilih menjadi seorang Miss Indonesia akan cukup kompleks namun ternyata sangat sederhana; hanya perlu mengambil langkah one day at a time, kira-kira seperti itu istilahnya.
Narasumber: Betul, one day at a time. Memang dalam hidup kita kita harus memiliki mimpi, tapi seringkali kita bermimpi terlalu jauh ke depan sampai-sampai kita lupa dengan apa yang harus kita lakukan sekarang.

Host: Jadi dengan kata lain cukup dengan melakukan hal-hal kecil yang kita tahu akan bisa kita raih, lalu jadikan keberhasilan dari hal-hal kecil tersebut sebagai batu loncatan untuk kita bisa meraih hal yang lebih besar lagi?
Narasumber: Ya. Seringkali kita terjebak dengan impian yang besar, sehingga ketika ada tawaran kecil datang, kita menolaknya karena kita mengharapkan sesuatu yang besar – kita mau semuanya serba instan. Menurut saya hal itu kurang baik; karena untuk menjadi sukses, kita justru perlu belajar dari hal-hal yang kecil.

Host: Ada satu pertanyaan yang masuk dari Bp. Robert: Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk turn around yang Imel alami? Hal-hal apa saja yang bisa menghambat dan secara emosional apa saja yang bisa menghalangi kita untuk mengalami turn around tersebut?
Narasumber: Turn around itu sendiri sebenarnya terjadi pada hari di mana saya mengambil keputusan untuk mau berubah, tapi proses yang harus saya lewati untuk membangun image saya sebetulnya sampai saat ini masih terus berlangsung, karena itu adalah sesuatu yang dibangun setiap hari. Untuk itu, hal penting yang harus kita lakukan adalah membenahi jati diri kita. Tanpa kita memiliki satu jadi diri di mana kita merasa aman dan nyaman dengan siapa diri kita, akan sulit sekali untuk kita bisa melakukan hal-hal yang besar. Karena ketika kita mengalami satu kegagalan, kegagalan itu akan menjadi suatu hantaman yang besar dan akhirnya mungkin akan membuat kita down secara emosional. Jika kita memiliki merasa aman atau secure bahwa di dalam hidup ini memang tidak ada yang sempurna, kita akan tetap bisa menanggapi setiap tantangan yang datang bahkan kegagalan yang terjadi dengan positif. Tapi memang proses pencarian jati diri itu tidak bisa kita lakukan seorang diri, karena jika kita bertanya kepada diri sendiri, kita justru akan menjadi semakin bingung. Yang pasti, kita harus tahu siapa Pencipta kita karena Dialah yang akan bisa menyempurnakan kita.

Host: Kita akan menjawab satu sms lagi: Bagaimana Imelda mengelola emosi yang kadangkala seperti ombak laut dan juga pikiran-pikiran negatif yang mungkin muncul?
Narasumber: Memang kebetulan saya tergolong orang yang melankolis: mudah menangis dan ketawa, atau dengan kata lain gampang menjadi moody, tapi kembali lagi, untuk kita bisa terus maju kita harus menjadi orang yang memiliki komitmen. Untuk kita bisa mencapai satu tujuan, kita harus memiliki komitmen.

Host: Dengan kata lain, ada pendisiplinan diri yang kita lakukan?
Narasumber: Ya. Memang kadangkala emosi kita bisa menjadi tidak stabil – khususnya bagi kaum wanita, tapi justru di saat seperti itulah pentingnya kita memiliki komitmen dan pendisiplinan diri.

Host: Dalam pengalaman Imel secara pribadi, jenis pendisiplinan diri yang seperti apa yang bisa menolong Imel terus menjaga kestabilan hidup, sehingga tidak dengan mudah terombang-ambing atau terpuruk kembali?
Narasumber: Pendisiplinan diri saya hanya satu: kedekatan saya dengan Tuhan – itu adalah kunci utamanya. Ketika saya sedang jauh dari Tuhan, saya bisa merasakan secara emosional saya menjadi mudah terombang-ambing. Seperti aliran listrik yang membuat lampu bisa menyala, saya merasa kedekatan saya dengan Tuhan membuat saya seperti penuh dengan aliran listrik dan sebaliknya.

Host: Apa saja yang menjadi aktivitas Imel sehari-hari? Karena setelah Imel menyelesaikan tugas sebagai Miss Indonesia 2005, aktivitasnya pasti akan berbeda dengan ketika Imel masih bertugas sebagai Miss Indonesia.
Narasumber: Ya, dulu sebagai Miss Indonesia aktivitas saya lebih banyak dari kementrian atau yang bersifat kenegaraan. Sekarang juga sebetulnya masih ada yang seperti itu, tapi selain itu saya juga memegang 3 buah program di stasiun televisi swasta yang ada, mengajar seminar, dan juga terlibat dalam bidang pendidikan. Saat ini saya sedang membangun sebuah sekolah yang franchise-nya saya beli dari luar, selain itu saya juga punya panti asuhan – saya punya 10 anak saat ini – lalu saya juga bekerja sama dengan pemerintah untuk bisa memulai pendidikan anak di usia dini. Jadi, saya me-manage dana dari beberapa perusahaan untuk bisa disalurkan ke dunia pendidikan.

Host: Mungkin Imel bisa ceritakan lebih lanjut tentang pendidikan di usia dini tersebut.
Narasumber: Pendidikan sebetulnya bisa dimulai dari 1-5 tahun, yang disebut dengan masa ‘golden years’. Di sekolah yang sedang saya bangun, kami percaya bahwa pada usia sekecil itu, ada banyak syaraf di otak yang belum terkoneksi, jadi kami menstimulasi syaraf-syaraf tersebut agar bisa terkoneksi dan di sana mereka juga akan belajar tentang planning dalam skala kelompok besar. Setelah mereka bisa membuat planning, mereka akan dipindah ke dalam kelompok yang lebih kecil, di mana mereka akan mengerjakan sebuah proyek dan akan ada evaluasinya, sehingga dari sejak dini anak-anak dilatih untuk membuat prioritas dan memunculkan kreativitas.

Host: Ada satu SMS dari Ruth yang bertanya seperti ini: Apa sih yang menjadi tujuan hidup Mbak Imel?
Narasumber: Secara skala besar, saya ingin membantu Indonesia di bidang pendidikan, agar bangsa kita memiliki satu dasar yang kuat untuk bisa menata masa depannya. Tapi selain itu saya juga ingin membawa orang-orang yang sudah tidak memiliki impian lagi bisa memiliki impiannya kembali; yang tidak berpengharapan bisa memiliki pengharapan lagi. Jadi, melalui dunia entertainment ataupun dunia pendidikan, saya harap saya bisa mewujudkan apa yang menjadi tujuan hidup saya ini.

Host: Karena waktu yang sangat singkat, perbincangan dengan Imelda Fransisca harus kita akhiri, tapi ada satu kesimpulan yang bisa saya berikan kepada Heartlisteners dari bincang-bincang kita selama satu jam terakhir ini: seorang Imelda Fransisca memiliki masa lalu yang cukup kelam, tetapi ketika ia mengambil satu tindakan tegas untuk berubah dan mulai mengerjakannya dari hal-hal yang kecil, itu semua menjadi sebuah dorongan dan batu loncatan untuk ia bisa meraih keberhasilan yang lebih besar lagi, sehingga akhirnya kita bisa mengenal seorang Imelda Fransisca sebagai Miss Indonesia dan runner up Miss Asia. Jadi, jika kita memperhatikan apa yang Imelda sudah raih, sebetulnya kita semuapun bisa meraihnya. Pertanyaannya: mengapa seringkali kita tidak bisa meraih apa yang berhasil diraih oleh orang-orang yang sukses? Sederhana, karena seringkali kita memiliki impian yang terlalu besar tapi kita tidak pernah mengambil langkah-langkah kecil yang perlu untuk mewujudkannya. Ada satu ungkapan yang sudah sering kita denga: Untuk Anda dapat mewujudkan impian yang Anda miliki, bangunlah dari tidur Anda dan lakukanlah apa yang menjadi impian Anda, niscaya impian itupu akan menjadi bagian Anda.

Tidak ada komentar: