Jumat, 02 Januari 2009

Bayam bikin kuat??

Popeye, siapa yang gak tau tokoh ini? Cukup makan bayam sekaleng, tau-tau ototnya jadi gede n jadi punya kekuatan super. Wow! Hebat banget donk bayam! Makan banyak ah terus ikut adu panco. Wait!! Ternyata mitos yang dipopulerkan Popeye soal bayam gak sepenuhnya bener loh! "Gak sepenuhnya" means ada benernya, ada salahnya.

Salahnya:
Tahun 1870, Dr. E von Wolf, seorang ilmuwan Jerman, salah ketik! Dia salah naro koma, kegeser satu digit, jadi bayam dapet kandungan zat besi 10x lebih banyak dari sayuran hijau lain. Kesalahan ini baru diperbaiki tahun 1937, 67 tahun kemudian! Popeye lahir tahun 1929, jadi waktu kesalahan ini ketauan, mitos tentang bayam udah terlanjur beredar..
*kecewa gak bisa jadi super man instant*

Tapi bukan berarti bayam ga ada bagusnya, ternyata masih banyak juga bagusnya, dan bikin kuat! :)

Manfaat bayam:
  • mengandung tingkat antioksidan yang tinggi <= mengurangi resiko kanker
  • mengurangi resiko kena sakit jantung
  • menjaga kesehatan mata
  • mengurangi resiko kerusakan otak setelah serangan stroke
  • menjaga kesehatan tulang
So, jangan berharap punya kekuatan super macam Hulk atau The Thing ya kalau makan bayam :)

http://en.wikipedia.org/wiki/Spinach
http://www.theregister.co.uk/2006/08/18/the_odd_body_spinach/
http://health.ninemsn.com.au/article.aspx?id=107235 <= pembuktian dengan orang biasa yg makan bayam

Rabu, 10 Desember 2008

The Origin of Soap Opera

kadang penasaran, apa sih opera sabun? kenapa opera mesti pake sabun? opera kan browser..

waktu dapet tugas leadership dari Ms. Jacy, baca buku "In Their Time: The Greatest Business Leaders of the Twentieth Century" by Anthony Mayo and Nitin Nohria, baru deh ketauan. ternyata perusahaan asal US, P&G (Procter & Gamble), punya produk detergen baru namanya "Oxydol". untuk promosi, detergen ini jadi sponsor di acara-acara opera di radio n TV. gara-gara disponsori produk sabun, jadilah disebut opera sabun / soap opera.

Mayo, Anthony J. and Nitin Nohria. "In Their Time: The Greatest Business Leaders of the Twentieth Century". Harvard Business School Press: 2005.

Numeronym!!

hmm, baru tau ternyata ada istilah baru, "numeronym" padahal udah sering dipake.
kata tante wiki, numeronym itu number-based word, misal b4 (before), t4 (tempat), t7an (tujuan).

belakangan ada istilah baru yang sering dipake di dunia maya, i18n, L10n. ternyata numeronym juga, i18n itu internationalization, cara bacanya: "ada 18 char antara i dan n". L10n itu localization. bacanya sama, "ada 10 char antara L dan n". "L" nya sengaja pake kapital, biar ga bingung antara lower case "l" sama lower case "i"

masih menurut tante wiki, akar katanya dari system admin yang punya pegawai namanya "Jan Scherpenhuizen". gara-gara nama belakangnya kepanjangan, ga bisa dibikinin account, jadi disingkat jadi s12n.

http://en.wikipedia.org/wiki/Numeronym

Kamis, 05 Juni 2008

Footprints

This version by: Margaret Fishback Powers - 1964

Other versions can be found here


One night I dreamed a dream.
I was walking along the beach with my Lord. Across the dark sky flashed scenes from my life. For each scene, I noticed two sets of footprints in the sand, one belonging to me and one to my Lord.

When the last scene of my life shot before me I looked back at the footprints in the sand. There was only one set of footprints. I realized that this was at the lowest and saddest times of my life. This always bothered me and I questioned the Lord about my dilemma.

"Lord, You told me when I decided to follow You, You would walk and talk with me all the way. But I'm aware that during the most troublesome times of my life there is only one set of footprints. I just don't understand why, when I need You most, You leave me."

He whispered, "My precious child, I love you and will never leave you, never, ever, during your trials and testings. When you saw only one set of footprints, It was then that I carried you."

Tersenyum selalu

cerita yang bagus,, jadi terharu. hix.. hix.. srooott!!

=====================================
Saya adalah ibu tiga orang anak (umur 14, 12, dan 3 tahun) dan baru saja menyelesaikan kuliah saya. Kelas terakhir yang harus saya ambil adalah Sosiologi. Sang Dosen sangat inspiratif dengan kualitas yang saya harapkan setiap orang memilikinya. Tugas terakhir yang diberikannya diberi nama "Tersenyum". Seluruh siswa diminta untuk pergi ke luar dan tersenyum kepada tiga orang dan mendokumentasikan reaksi mereka. Saya adalah seorang yang mudah bersahabat dan selalu tersenyum pada setiap orang dan mengatakan "hello", jadi, saya pikir,tugas ini sangatlah mudah.

Segera setelah kami menerima tugas tsb, suami saya,anak bungsu saya, dan saya pergi ke restoran
McDonald's pada suatu pagi di bulan Maret yang sangat dingin dan kering. Ini adalah salah satu cara kami
dalam antrian, menunggu untuk dilayani, ketika mendadak setiap orang di sekitar kami mulai
menyingkir, dan bahkan kemudian suami saya ikut menyingkir.Saya tidak bergerak sama sekali...
suatu perasaan panik menguasai diri saya ketika saya berbalik untuk melihat mengapa mereka semua menyingkir.

Ketika berbalik itulah saya membaui suatu "bau badan kotor" yang sangat menyengat, dan berdiri di belakang saya dua orang lelaki tunawisma. Ketika saya menunduk melihat laki-laki yang lebih pendek, yang dekat dengan saya, ia sedang "tersenyum". Matanya yang biru langit indah penuh dengan cahaya Tuhan ketika ia minta untuk dapat diterima. Ia berkata "Good day" sambil menghitung beberapa koin yang telah ia kumpulkan. Lelaki yang kedua memainkan tangannya dengan gerakan aneh sambil berdiri di belakang temannya.

Saya menyadari bahwa lelaki kedua itu menderita defisiensi mental dan lelaki dengan mata biru itu adalah penolongnya. Saya menahan haru ketika berdiri di sana bersama mereka.

Wanita muda di counter menanyai lelaki itu apa yang mereka inginkan. Ia berkata, "Kopi saja, Nona" karena hanya itulah yang mampu mereka beli. (Jika mereka ingin duduk di dalam restoran dan menghangatkan tubuh mereka, mereka harus membeli esuatu. Ia hanya ingin menghangatkan badan). Kemudian saya benar-benar merasakannya - desakan itu sedemikian kuat sehingga saya hampir saja merengkuh dan memeluk lelaki kecil bermata biru itu. Hal itu terjadi bersamaan dengan ketika saya menyadari bahwa semua mata di restoran menatap saya, menilai semua tindakan saya.

Saya tersenyum dan berkata pada wanita di belakang counter untuk memberikan saya dua paket makan pagi lagi dalam nampan terpisah. Kemudian saya berjalan melingkari sudut ke arah meja yang telah dipilih kedua lelaki itu sebagai tempat istirahatnya. Saya meletakkan nampan itu ke atas meja dan meletakkan tangan saya di atas tangan dingin lelaki bemata biru itu.

Ia melihat ke arah saya, dengan air mata berlinang, dan berkata "Terima kasih." Saya meluruskan badan dan mulai menepuk tangannya dan berkata, "Saya tidak melakukannya untukmu. Tuhan berada di sini bekerja melalui diriku untuk memberimu harapan."

Saya mulai menangis ketika saya berjalan meninggalkannya dan bergabung dengan suami dan anak saya. Ketika saya duduk suami saya tersenyum kepada saya dan berkata, "Itulah sebabnya mengapa Tuhan memberikan kamu kepadaku, Sayang. Untuk memberiku harapan." Kami saling berpegangan tangan beberapa saat dan pada saat itu kami tahu bahwa hanya karena Kasih Tuhan kami diberikan apa yang dapat kami berikan untuk orang lain.

Hari itu menunjukkan kepadaku cahaya kasih Tuhan yang murni dan indah. Saya kembali ke college, pada hari terakhir kuliah, dengan cerita ini ditangan saya. Saya menyerahkan "proyek" saya dan dosen saya membacanya. Kemudian ia melihat kepada saya dan berkata, "Bolehkan saya membagikan ceritamu kepada yang lain?" Saya mengangguk pelahan dan ia kemudian meminta perhatian dari kelas. Ia mulai membaca dan saat itu saya tahu bahwa kami, sebagai manusia dan bagian dari Tuhan, membagikan pengalaman ini untuk menyembuhkan dan untuk disembuhkan..

Dengan caraNya sendiri, Tuhan memakai saya untuk menyentuh orang-orang yang ada diMcDonald's, suamiku, anakku, guruku, dan setiap jiwa yang menghadiri ruang kelas di malam terakhir saya sebagai mahasiswi.. Saya lulus dengan satu pelajaran terbesar yang pernah saya pelajari: PENERIMAAN YANG TAK BERSYARAT.

Banyak cinta dan kasih sayang yang dikirimkan kepada setiap orang yang mungkin membaca cerita ini dan mempelajari bagaimana untuk MENCINTAI SESAMA DAN MEMANFAATKAN BENDA-BENDA BUKANNYA MENCINTAI BENDA DAN MEMANFAATKAN SESAMA.

Jika anda berpikir bahwa cerita ini telah menyentuh anda dengan cara apapun, tolong kirimkan cerita ini kepada setiap orang yang anda kenal. Disini ada seorang malaikat yang dikirimkan untuk mengawasi anda. Supaya malaikat itu bisa bekerja, anda harus menyampaikan cerita ini pada orang-orang yang ingin anda awasi. Seorang malaikat menulis: Banyak orang akan datang dan pergi dari kehidupanmu, tetapi hanya sahabat2 sejati yang akan meninggalkan jejak di dalam hatimu. Untuk menangani dirimu, gunakan kepalamu. Tetapi untuk menangani orang lain, gunakan hatimu.

Tuhan memberikan kepada setiap burung makanan mereka, tetapi Ia tidak melemparkan makanan itu ke dalam sarang mereka. Ia yang kehilangan uang, kehilangan banyak; Ia yang kehilangan seorang teman, kehilangan lebih banyak; tetapi ia yang kehilangan keyakinan, kehilangan semuanya. Orang-orang muda yang cantik adalah hasil kerja alam, tetapi orang-orang tua yang cantik adalah hasil karya seni. Belajarlah dari kesalahan orang lain. Engkau tidak dapat hidup cukup lama untuk mendapatkan semua itu dari dirimu sendiri.

Lakukan yang terbaik

Seorang tukang kayu tua bermaksud pension dari pekerjaannya di sebuah perusahaan kontruksi real estate. Ia menyampaikan keinginannya tersebut kepada pemilik perusahaan. Tentu saja, karena tak bekerja, ia akan kehilangan penghasilan bulanannya, tetapi keputusan itu sudah bulat. Ia merasa lelah. Ia ingin beristirahat dan menikmati sisa hari tuanya dengan penuh kedamaian bersama istri dan keluarganya.

Pemilik perusahaan merasa sedih kehilangan salah seorang pekerja terbaiknya. Ia lalu memohon pada si tukang kayu tersebut untuk membuatkan sebuah rumah untuk miliknya.

Tukang kayu mengangguk menyetujui permohonan pribadi pemilik perusahaan itu. Tapi, sebenarnya ia merasa terpaksa. Ia ingin segera berhenti. Hatinya tidak sepenuhnya dicurahkan. Dengan ogah-ogahan ia mengerjakan proyek itu. Ia Cuma menggunakan bahan-bahan sekedarnya.

Akhirnya selesailah rumah yang diminta. Hasilnya bukanlah sebuah rumah baik. Sungguh sayang ia harus mengakhiri karirnya dengan prestasi yang tidak begitu mengagumkan.

Ketika pemilik perusahan itu datang melihat rumah yang dimintainya, ia menyerahkan sebuah kunci rumah pada si tukang kayu. “Ini adalah rumahmu“ katanya ”hadiah dari kami”. Betapa terkejutnya si tukang kayu. Betapa malu dan menyesal. Seandainya saja ia mengetahui bahwa ia sesungguhnya mengerjakan rumah untuk dirinya, ia tentu akan mengerjakannya dengan cara yang lain sama sekali. Kini ia harus tinggal di sebuah rumah yang tak terlalu bagus hasil karyanya sendiri.

Itulah yang terjadi dalam kehidupan kita. Kadangkala, banyak dari kita yang membangun kehidupan dengan cara yang membingungkan. Lebih memilih berusaha ala kadarnya ketimbang mengupayakan yang baik. Bahkan, pada bagian-bagian terpenting dalam hidup kita tidak memberikan yang terbaik. Pada akhir perjalanan, kita terkejut saat melihat apa yang telah kita lakukan dan menemukan diri kita hidup di dalam sebuah rumah yang kita ciptakan sendiri. Seandainya kita menyadari sejak semula, kita akan menjalani hidup ini dengan cara yang jauh berbeda.

Renungkanlah rumah yang sedang kita bangun. Setiap hari kita memukul paku, memasang papan, mendirikan dinding dan atap. Mari kita selesaikan rumah kita dengan sebaik-baiknya seolah-olah hanya mengerjakannya sekali saja dalam seumur hidup. Biarpun kita hanya hidup satu hari, maka dalam satu hari itu kita pantas untuk hidup penuh keagungan dan kejayaan.

Apa yang bisa diterangkan lebih jelas lagi. Hidup kita esok adalah akibat dari sikap dan pilihan yang kita perbuat di hari ini. Hari perhitungan adalah milik Tuhan, bukan kita, karenanya pastikan kita pun akan masuk dalam barisan kemenangan.

Rabu, 21 Mei 2008

Transformasi Diri Imelda Fransisca

taken from http://kesuksesan-sejati.blogspot.com/.../transformasi-diri-imelda-fransisca.html

Transkrip ini dibuat berdasarkan siaran bertajuk 'Succeed Successfully' di radio Heartline 100.6 FM yang mengudara tanggal 12 Mei 2008, dengan narasumber Imelda Fransisca, Miss Indonesia dan Miss Favorit pilihan pemirsa tahun 2005, serta runner up Miss Asean 2005 sebagai wakil dari Indonesia.


Host: Dari profil seorang Imelda Fransisca dan juga dari buku yang Imel terbitkan dengan judul You Can Be Anything and Make Changes, saya mendapati ada satu fase di mana Imel mengalami suatu kondisi hidup yang seakan-akan sangat bertolak belakang sehingga menyebabkan perubahan yang sangat drastis, dan itu menjadi semacam batu loncatan yang menghantarkan Imel kepada kesuksesan seperti yang sudah Imel nikmati sampai sejauh ini. Sebenarnya seberapa pentingkah untuk kita mentransformasi diri atau mengalami perubahan?
Narasumber: Yang pasti kita harus tahu dulu seperti apa keadaan diri kita dan transformasi diri seperti apa yang perlu kita lakukan. Sebetulnya untuk kita mencapai kesuksesan tidak selalu harus melakukan transformasi diri, you still can be yourself tapi kalau kita memang merasa ada kekurangan pada diri kita atau ada hal-hal yang memang bisa menghambat kita untuk menjadi sukses, ya sudah seharusnya kita mentransformasi diri.

Host: Dalam profil Imel dikatakan bahwa Imel berkuliah di Ohio State University di Amerika dan mengambil jurusan psikologi. Dari apa yang Imel perhatikan – baik dalam hidup Imel pribadi maupun dalam diri orang-orang sukses yang pernah Imel jumpai – kira-kira apa saja hal-hal yang paling mendasar yang membutuhkan perubahan jika kita ini ingin menjadi orang yang lebih baik lagi? Karena saya mendapati, seringkali kita sendiri tidak bisa mengetahui dengan pasti apa yang menjadi kekurangan kita, sehingga ketika akhirnya kita dituntut untuk menjadi lebih baik, kita tidak tahu apa yang harus kita lakukan karena selama ini kita merasa sudah cukup baik.
Narasumber: Menurut saya itu kembali lagi kepada introspeksi diri yang kita lakukan, karena ada kalanya kita tidak mengetahui apa saja yang mejadi kendala-kendala yang menghambat kita untuk dapat terus maju, tapi biasanya 80%-90% orang tahu apa yang menjadi kekurangannya. Masalahnya, ada orang yang sengaja pura-pura tidak tahu, ada juga yang memang tidak mau tahu, tapi saya rasa mayoritas orang tahu kelemahannya masing-masing, pertanyaannya sekarang adalah orang itu mau berubah atau tidak. Dari apa yang pernah saya alami – seperti yang saya tuliskan dalam buku saya – yang membuat saya mau berubah adalah karena rasa capai dan frustrasi terhadap situasi yang ada, di mana orang-orang memiliki suatu penilaian tertentu terhadap diri saya dan saya tidak mau dinilai seperti itu; karena itu saya mau keluar dair posisi seperti itu. Mungkin Anda bertanya-tanya, posisi seperti apa? Waktu usia 9 tahun, saya dikirim ke Singapura oleh orangtua saya dan di sana saya tinggal dengan guru saya. Ketika itulah saya mengalami child abuse (tindak kekerasan), di mana jika hasil belajar saya tidak sesuai dengan yang diharapkan, setiap kesalahan yang saya buat harus dibayar dengan satu pukulan. Jadi kalau saya diberikan 200 soal dan saya salah menjawab 90 soal, alhasil dalam sehari saya bisa menerima 90 pukulan. Jadi saya sering sampai babak belur. Dan yang paling menyakitkan hati saya adalah selama saya tinggal di sana, setiap hari guru saya selalu berkata kepada saya (sambil memukul saya), “Dasar kamu anak bodoh yang tidak tahu diuntung, kamu tidak mungkin menjadi orang sukses...” dan hal-hal negatif lainnya. Sebagai seorang anak kecil yang dicekokin dengan kata-kata seperti itu setiap hari, lama kelamaan saya menjadi percaya dengan apa yang dia katakan itu. Selain itu, saya juga sering tidak diperbolehkan untuk makan oleh guru saya, jika dia merasa saya tidak sebaik yang dia harapkan. Akibatnya, setiap kali saya keluar rumah saya akan makan sebanyak-banyaknya, karena saya takut kalau-kalau saya tidak diberi makan di rumah, sehingga pada usia 12 tahun berat badan saya sudah mencapai 80 kg. Pada akhirnya ada satu kejadian di mana dia juga ingin menggunting rambut saya, sehingga karena sudah tidak tahan lagi akhirnya saya memberanikan diri untuk menelepon orangtua saya (selama ini saya tidak berani bercerita kepada orangtua saya karena saya takut, jika saya ketahuan mengadu kepada orangtua saya, saya akan lebih disiksa lagi oleh dia). Ketika orangtua saya tahu mereka menjadi marah dan kemudian menarik saya pulang. Akan tetapi masalahnya tidak berhenti sampai di situ saja; ketika saya masuk SMA, saya sering sekali mengalami krisis identitas karena badan saya memang yang paling besar di sekolah, sehingga saya sering menerima ledekan-ledekan dari teman-teman – saya sering disebut sebagai raksasa-lah – dan sebagai seorang gadis hal itu sangat melukai hati saya. Sebagai akibatnya, untuk bisa diterima oleh teman-teman, saya diet mati-matian sampai akhirnya saya menderita anoreksia dan komplikasi kesehatan lainnya: lutut saya mengalami gangguan karena keropos akibat kurang nutrisi, pencernaan saya mengalami malfunction, rambut saya rontok, saya sering pingsan, dan jika muntah saya mengeluarkan cairan kuning. Yang paling parah adalah secara mental, karena saya hidup tapi saya tidak memiliki tujuan hidup. Ketika akhirnya saya bisa melanjutkan kuliah ke luar negeri, itu juga karena orangtua saya sanggup membiayai saya, tapi saya sendiri sesungguhnya tidak punya tujuan apa-apa. Bagi saya, kalau sampai saya tidak lulus kuliah juga tidak apa-apa. Suatu hari saya mengikuti kelas introduction to psychology dan di situ saya belajar tentang eating disorder. Yang paling mengejutkan saya adalah bahwa eating disorder ternyata bisa menyebabkan kematian. Sepulangnya dari kelas itu saya mulai berpikir, apakah saya memang dilahirkan ke dunia hanya untuk melakukan hal-hal yang tidak saya ketahui apa tujuannya dan saya akan meninggal hanya karena kebodohan saya. Dari situ saya mengambil keputusan untuk mengubah hidup saya dan sejujurnya hal itu tidak mudah, karena semua masalah itu berakar pada masa lalu. Ketika saya semakin mendekatkan diri kepada Tuhan, saya disadarkan bahwa saya harus mulai ‘berdamai’ dengan masa lalu saya agar saya bisa terus melangkah ke depan. Ketika saya melakukan hal itu, saat ini saya sungguh diberkati dengan luar biasa.

Host: Sangat luar biasa! Dari sini saya bisa simpulkan bahwa Imelda mengalami turning point justru ketika Imel bisa mulai ‘berdamai’ dengan masa lalu yang kelihatannya kelam dan sangat menyakitkan.
Narasumber: Ya, saya bisa mengalami turning point itu ketika saya mengambil sebuah keputusan bahwa meskipun saya memiliki masa lalu yang kelam, saya tidak mengijinkan masa lalu saya itu menentukan masa depan saya.

Host: Jadi Heartlisteners, pastikan pengambilan keputusan yang Anda buat akan selalu bisa menghantarkan Anda menjadi orang yang lebih baik lagi. Dan ada satu prinsip yang saya ingin garis bawahi dari apa yang tadi Imel sampaikan: ketika Imel belajar untuk mendekatkan diri lebih lagi kepada Tuhan, proses ‘berdamai’ dengan masa lalu akan menjadi jauh lebih mudah.
Narasumber: Betul sekali. Karena kita juga bisa lahir ke dunia ini karena kuasa dari “yang di atas”; men are designed to work with God (manusia diciptakan untuk bisa bekerja sama dengan Tuhan). Kalau kita bisa bekerja sama dengan Tuhan, segala sesuatunya pasti akan menjadi lebih mudah.

Host: Berikut ini sudah ada sms yang masuk dari Bp. Rianto: Dapatkah Imelda memberikan contoh-contoh tindakan konkret dalam menyertakan Tuhan pada posisi turning point?
Narasumber: Sebenarnya mudah sekali; setiap bangun pagi, yang saya lakukan pertama-tama adalah saya mencari tuntunan dari Tuhan untuk dapat melewati sepanjang hari itu, karena dalam bidang yang saya tekuni khususnya, pekerjaan yang ada seringkali cukup stressful karena ada banyak hal yang bisa terjadi di luar apa yang kita harapkan ataupun ada situasi-situasi yang cukup menantang buat kita.

Host: Satu sms lagi dari Indri: Bisakah Ibu ceritakan arti kerja sama dengan Tuhan menurut Ibu?
Narasumber: Arti kerja sama dengan Tuhan adalah mengikutsertakan Tuhan dalam setiap keputusan yang kita buat, dalam setiap pemikiran dan tindakan kita. Karena sebenarnya kita bisa bercakap-cakap dengan Tuhan setiap saat dan di mana saja, bukan hanya ketika kita berdoa pada pagi atau malam hari, dan Tuhan pasti bisa mendengar.

Host: Dari tulisan Imel dalam buku You Can Be Anything... dan juga dari foto-foto yang ada di buku tersebut – foto-foto pada waktu Imel masih di Singapura sampai ketika Imel meraih prestasi sebagai Miss Indonesia dan runner up Miss Asia tahun 2005, saya melihat ada suatu perubahan yang sangat menyolok. Sebenarnya, apa yang menjadi dasar keyakinan atau belief system yang dimiliki oleh seorang Imelda Fransisca sehingga rela membayar harga yang sangat mahal untuk bisa berubah dari seorang dead-girl walking menjadi seorang yang bukan hanya memiliki prestasi nasional tetapi bahkan internasional?
Narasumber: Memang pada waktu saya mengambil keputusan itu, saya hanya melihat satu tujuan atau target jangka pendek, yaitu saya ingin lulus kuliah dengan nilai yang baik dalam suatu jangka waktu yang cukup singkat, dan saya ingin membanggakan orangtua saya, sambil juga membuktikan kepada mereka dan kepada diri saya sendiri bahwa saya bisa melakukannya. Cuma itu yang ada di pikiran saya saat itu. Jadi, yang saya lakukan pada waktu itu adalah belajar dengan giat, sementara teman-teman yang lain mungkin sedang menikmati hidup atau bersenang-senang. Ketika saya menerima hasil ujian saya dengan nilai A, saya menyadari bahwa ternyata saya ini bisa jika saya mau belajar dan berusaha mati-matian. Saya menyadari bahwa ternyata saya tidak bodoh, tidak seperti apa yang saya percayai dulu. Hal itu lalu menjadi motivasi untuk saya belajar lebih giat lagi dan akhirnya saya bisa sampai membantu dosen saya. Dari situ ada satu value atau nilai yang saya pegang, yaitu bahwa jika kita berusaha dengan keras, kita pasti akan melihat hasil yang baik juga.

Host: Wow! Saya mengira, apa yang menjadi belief system seorang Imelda Fransiska sampai bisa mentransformasi diri dan terpilih menjadi seorang Miss Indonesia akan cukup kompleks namun ternyata sangat sederhana; hanya perlu mengambil langkah one day at a time, kira-kira seperti itu istilahnya.
Narasumber: Betul, one day at a time. Memang dalam hidup kita kita harus memiliki mimpi, tapi seringkali kita bermimpi terlalu jauh ke depan sampai-sampai kita lupa dengan apa yang harus kita lakukan sekarang.

Host: Jadi dengan kata lain cukup dengan melakukan hal-hal kecil yang kita tahu akan bisa kita raih, lalu jadikan keberhasilan dari hal-hal kecil tersebut sebagai batu loncatan untuk kita bisa meraih hal yang lebih besar lagi?
Narasumber: Ya. Seringkali kita terjebak dengan impian yang besar, sehingga ketika ada tawaran kecil datang, kita menolaknya karena kita mengharapkan sesuatu yang besar – kita mau semuanya serba instan. Menurut saya hal itu kurang baik; karena untuk menjadi sukses, kita justru perlu belajar dari hal-hal yang kecil.

Host: Ada satu pertanyaan yang masuk dari Bp. Robert: Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk turn around yang Imel alami? Hal-hal apa saja yang bisa menghambat dan secara emosional apa saja yang bisa menghalangi kita untuk mengalami turn around tersebut?
Narasumber: Turn around itu sendiri sebenarnya terjadi pada hari di mana saya mengambil keputusan untuk mau berubah, tapi proses yang harus saya lewati untuk membangun image saya sebetulnya sampai saat ini masih terus berlangsung, karena itu adalah sesuatu yang dibangun setiap hari. Untuk itu, hal penting yang harus kita lakukan adalah membenahi jati diri kita. Tanpa kita memiliki satu jadi diri di mana kita merasa aman dan nyaman dengan siapa diri kita, akan sulit sekali untuk kita bisa melakukan hal-hal yang besar. Karena ketika kita mengalami satu kegagalan, kegagalan itu akan menjadi suatu hantaman yang besar dan akhirnya mungkin akan membuat kita down secara emosional. Jika kita memiliki merasa aman atau secure bahwa di dalam hidup ini memang tidak ada yang sempurna, kita akan tetap bisa menanggapi setiap tantangan yang datang bahkan kegagalan yang terjadi dengan positif. Tapi memang proses pencarian jati diri itu tidak bisa kita lakukan seorang diri, karena jika kita bertanya kepada diri sendiri, kita justru akan menjadi semakin bingung. Yang pasti, kita harus tahu siapa Pencipta kita karena Dialah yang akan bisa menyempurnakan kita.

Host: Kita akan menjawab satu sms lagi: Bagaimana Imelda mengelola emosi yang kadangkala seperti ombak laut dan juga pikiran-pikiran negatif yang mungkin muncul?
Narasumber: Memang kebetulan saya tergolong orang yang melankolis: mudah menangis dan ketawa, atau dengan kata lain gampang menjadi moody, tapi kembali lagi, untuk kita bisa terus maju kita harus menjadi orang yang memiliki komitmen. Untuk kita bisa mencapai satu tujuan, kita harus memiliki komitmen.

Host: Dengan kata lain, ada pendisiplinan diri yang kita lakukan?
Narasumber: Ya. Memang kadangkala emosi kita bisa menjadi tidak stabil – khususnya bagi kaum wanita, tapi justru di saat seperti itulah pentingnya kita memiliki komitmen dan pendisiplinan diri.

Host: Dalam pengalaman Imel secara pribadi, jenis pendisiplinan diri yang seperti apa yang bisa menolong Imel terus menjaga kestabilan hidup, sehingga tidak dengan mudah terombang-ambing atau terpuruk kembali?
Narasumber: Pendisiplinan diri saya hanya satu: kedekatan saya dengan Tuhan – itu adalah kunci utamanya. Ketika saya sedang jauh dari Tuhan, saya bisa merasakan secara emosional saya menjadi mudah terombang-ambing. Seperti aliran listrik yang membuat lampu bisa menyala, saya merasa kedekatan saya dengan Tuhan membuat saya seperti penuh dengan aliran listrik dan sebaliknya.

Host: Apa saja yang menjadi aktivitas Imel sehari-hari? Karena setelah Imel menyelesaikan tugas sebagai Miss Indonesia 2005, aktivitasnya pasti akan berbeda dengan ketika Imel masih bertugas sebagai Miss Indonesia.
Narasumber: Ya, dulu sebagai Miss Indonesia aktivitas saya lebih banyak dari kementrian atau yang bersifat kenegaraan. Sekarang juga sebetulnya masih ada yang seperti itu, tapi selain itu saya juga memegang 3 buah program di stasiun televisi swasta yang ada, mengajar seminar, dan juga terlibat dalam bidang pendidikan. Saat ini saya sedang membangun sebuah sekolah yang franchise-nya saya beli dari luar, selain itu saya juga punya panti asuhan – saya punya 10 anak saat ini – lalu saya juga bekerja sama dengan pemerintah untuk bisa memulai pendidikan anak di usia dini. Jadi, saya me-manage dana dari beberapa perusahaan untuk bisa disalurkan ke dunia pendidikan.

Host: Mungkin Imel bisa ceritakan lebih lanjut tentang pendidikan di usia dini tersebut.
Narasumber: Pendidikan sebetulnya bisa dimulai dari 1-5 tahun, yang disebut dengan masa ‘golden years’. Di sekolah yang sedang saya bangun, kami percaya bahwa pada usia sekecil itu, ada banyak syaraf di otak yang belum terkoneksi, jadi kami menstimulasi syaraf-syaraf tersebut agar bisa terkoneksi dan di sana mereka juga akan belajar tentang planning dalam skala kelompok besar. Setelah mereka bisa membuat planning, mereka akan dipindah ke dalam kelompok yang lebih kecil, di mana mereka akan mengerjakan sebuah proyek dan akan ada evaluasinya, sehingga dari sejak dini anak-anak dilatih untuk membuat prioritas dan memunculkan kreativitas.

Host: Ada satu SMS dari Ruth yang bertanya seperti ini: Apa sih yang menjadi tujuan hidup Mbak Imel?
Narasumber: Secara skala besar, saya ingin membantu Indonesia di bidang pendidikan, agar bangsa kita memiliki satu dasar yang kuat untuk bisa menata masa depannya. Tapi selain itu saya juga ingin membawa orang-orang yang sudah tidak memiliki impian lagi bisa memiliki impiannya kembali; yang tidak berpengharapan bisa memiliki pengharapan lagi. Jadi, melalui dunia entertainment ataupun dunia pendidikan, saya harap saya bisa mewujudkan apa yang menjadi tujuan hidup saya ini.

Host: Karena waktu yang sangat singkat, perbincangan dengan Imelda Fransisca harus kita akhiri, tapi ada satu kesimpulan yang bisa saya berikan kepada Heartlisteners dari bincang-bincang kita selama satu jam terakhir ini: seorang Imelda Fransisca memiliki masa lalu yang cukup kelam, tetapi ketika ia mengambil satu tindakan tegas untuk berubah dan mulai mengerjakannya dari hal-hal yang kecil, itu semua menjadi sebuah dorongan dan batu loncatan untuk ia bisa meraih keberhasilan yang lebih besar lagi, sehingga akhirnya kita bisa mengenal seorang Imelda Fransisca sebagai Miss Indonesia dan runner up Miss Asia. Jadi, jika kita memperhatikan apa yang Imelda sudah raih, sebetulnya kita semuapun bisa meraihnya. Pertanyaannya: mengapa seringkali kita tidak bisa meraih apa yang berhasil diraih oleh orang-orang yang sukses? Sederhana, karena seringkali kita memiliki impian yang terlalu besar tapi kita tidak pernah mengambil langkah-langkah kecil yang perlu untuk mewujudkannya. Ada satu ungkapan yang sudah sering kita denga: Untuk Anda dapat mewujudkan impian yang Anda miliki, bangunlah dari tidur Anda dan lakukanlah apa yang menjadi impian Anda, niscaya impian itupu akan menjadi bagian Anda.